Selamatan di Bulan Ramadhan itu menggoda

11 Jul 2014

Saya ingin berbagi sedikit cerita tentang pengalaman masa kecil saya. Kalau ingat masa-masa itu terkadang saya malu sendiri dan kadang sampai ketawa-ketawa sendiri. Bagaimana tidak, masa anak-anak penuh dengan sesuatu yang begitu menggelikan dan terkadang mengesankan. Masa Anak-anak kata orang merupakan masa-masa yang paling enak. Dalam hati saya sependapat dengan pernyataan tersebut, masa anak-anak masa dimana segala keinginan dan kemauan kita bisa terwujud tanpa peduli apapun , tanpa berfikir apapun. Yang jelas mau sekarang ya harus ada sekarang. Alhasil orang tua yang jadi direpotkan. Harus bigini, harus begitu mengikuti kemauan anak. Walaupun tidak semua keinginan anak bisa dikabulkan orang tua, tapi setidaknya setiap keinginan anak kebanyakan membuat orang tua bingung, mutar otak bagaimana agar anaknya bisa senang dan mengarahkan keinginan anak kepada suatu hal yang baik dan benar. Bukan menuruti semua keinginan anak.

Kalau bulan puasa begini saya jadi teringat kenangan saat masih getol-getolnya sama uang. Dalam kebiasaan orang jawa (saya rasa tidak hanya orang jawa) setiap bulan ramadhan selalu mengadakan selamatan. Selamatan itu sendiri sebagai bentuk rasa syukur kepada Yang Maha Pencipta atas segala karunia yang diperoleh termasuk anugrah bisa ikut berpuasa. Selamatan biasanya dilakukan menjelang malam-malam ganjil seperti puasa malam 9 dan 27. Ada yang belum tau bagaimana bentuk selamatan di bulan puasa? Jadi begini, setiap keluarga masak makanan seperti nasi, ayam, tahu, telur, mie, oseng-oseng dan lainnya. Selanjutkan masakan tersebut akan dimasukkan kedalam rantang (keranjang makanan) kemudian diatar ke para tetangga atau para saudara. Nah di bagian ini yang paling enak.. yang kebagian mengantarkan makanan itu adalah para anak-anak. Kok bisa enak? Iya pasalnya setelah anak mengantarkan makanan tersebut, tuan rumah selalu selalu memberi uang. Istilahnya uang jajan, bukan dalam artian membeli makanan yang diantarkan kerumah. Sebenarnya kalaupun tidak memberi uang kepada anak yang mengantarkan makanan itupun tak masalah namun rasa sungkan sendiri yang sulit menghilangkan kebiasaan member uang itu.

Seperti kebanyakan anak lain, dulu saya sangat senang disuruh mengantarkan makanan saat selamatan. Jelas yang ada dibayanganku pertama kali adalah uang. Anak kecil kalau diberi uang seperti kucing kalau sudah diberi tulang. Uang otomatis mengarah pada jajan, semakin banyak uang semain banyak jajan yang dapat dibeli. Saya dulu kadang sampai berebutan dengan adik saya ketika mengirim makanan. Maunya semua makanannya saya yang mengantar, semakin banyak mengantar makanan semakin banyak pula uang yang terkumpul. Akhirnya demi mencegah perang dunia dalam hubungan kakan beradik, orang tua yang membagi mengantar ke siapa saja dan siapa yang bagian mengantar. Walaupun sudah dibagi sedemikian rupa, orang-orang memberi uang dengan nomial tidak sama yang berujung munculnya rasa iri hati dengki dan dendam (hahahaha.). Nanti kalau uang saya yang lebih banyak, adik yang uring-uringan. Kalau uang adik yang lebih banyak, saya nanti yang banting-banting pintu. Hahahaha.. itulah namanya anak-anak.

Saat selamatan seperti itulah godaan terbesar puasa biasanya muncul. Penyeb pertama adalah keliling kemana-mana mengantar makanan, walaupun yang jauh diantar orang tua tetap saja mau tidak mau tenaga akan sedikit terkuras. Rasa cape jelas akan muncul. Saat mengantar makanan biasanya tidak terasa capenya namun setelah semua makanan sudah diantar ke tetangga dan saudara, rasa lelah itu baru muncul. Jelas ujung-ujungnya adalah kalau tidak lapar ya haus. Saya kasih tau satu rahasia ya yang dimiliki oleh orang-orang desa. Orang desa itu kebanyakan kalau tidak ada acara besar sangat jarang sekali makan ayam. Nah saat-saat selamatan itulah kebanyakan orang-orang masak ayam. Bayangkan saja, sudah cape, lapar dan haus setelah berkeliling mengantar makanan didukung dirumah ada ayam yang jarang sekali dimakan. Waaahhhh melihat sepotong ayam goreng diatas piring rasanya seperti dapat durian runtuh. Namanya anak-anak ya, dihadapkan pada makanan yang dia suka dan jarang makan itu , eh ditambah lagi lapar.. jangan ditanyakan lagi akhirnya, jelas banyak yang tak tahan.

Disinilah pintar-pintarnya orang tua membujuk anaknya agar tetap berpuasa. Saya ingat dulu, ibuku mengalihkan perhatianku ke makanan dengan menghitung uang hasil mengantar makanan. Nanti ibu mesti bilang uangnya banyak bisa buat beli ini I belitu. Saat dengarnya rasanya senang campur bangga, walaupun uang bukan sepenuhnya hasil kerja keras sendiri. Kalau sudah demikian, khayalan beli mainan ini itu, beli mainan itu langsung muncul. Ibu juga bilang nanti dalam waktu dekat akan ada pasar malam dan disana pasti banyak yang jual mainan dan makanan. Dan ibu menyuruh tidak menghabis-habiskan uangnya sekarang, nunggu ada pasar malam. (anehnya setiap selamatan ibu selalu bilang akan ada pasar malam).Ketika sudah merasa senang demikian, rasa ingin membatalkan puasa akan hilang tergantikan dengan khayalan berapa banyak mainan yang bisa dibeli. Cara diatas terkadang tidak berhasil juga. Sudah di iming-imingi ini itu tetap saja tidak bisa mengalihkan perhatian untuk makan ayam. Ujung-ujungnya bapak ibu menyuruh puasa bedug alias puasa setengah hari. Intinya jangan sampai puasanya batal.

Itu sedikit pengalaman saya waktu masa kecil bagaimana susahnya ketika dihadapkan pada godaan makanan dan juga uang berlebih yang berpotensi digunakan untuk jajan. Saya rasa godaan tersebut sekarang masih dihadapi oleh anak-anak pasalnya kebiasaan selamatan bulan ramadhan itu sampai sekarang masih ada. Dan godaan itu sepertinya akan menghampiri adik saya yang paling kecil. Tidak sabar melihat bagaimana ekspresinya menahan godaan itu. Apakah mirip dengan yang saya alami dulu atau mungkin bapak ibu sudah menemukan cara yang lebih baik untuk mengalihkan perhatian adikku.

#ngaBLOGburit


TAGS ngaBLOGburit


-

Author

Follow Me