Jalan Kehidupan Penuh Batu

6 Jun 2014

Aku berjalan menyusuri jalan yang penuh batu seorang diri. Beberapa kali jalanku terhenti karena luka di telapak kaki. Aku berjalan lagi. Entah dimana tujuannya aku pun tak tahu. Yang aku tahu adalah aku berpura-pura bisa berjalan sendiri. Padahal dalam setiap langkah kakiku aku berharap ada orang lain yang turut berjalan bersamaku. Orang yang dapat menunjukkanku akhir dari perjalananku. Orang yang dapat menjadi kawanku untuk mencurahkan semua isi hati. Orang yang selalu medndukungku dan orang yang bisa menjadi objek salaing mengasihi.

Pada suatu saat saat kau sudah benar-benar tak mampu berdiri karena kaki penuh goresan batu-batu kerikil, tiba-tiba kau melihat seorang sosok yang begitu mulianya mengulukan tangan untuk membantuku kembali berdiri. Saat itu aku merasa menjadi orang yang paling beruntung. Sosok itu dengan senyumnya yang lebar terus membopongku mebantu berjalan. Saat aku tengok kakinya ternyata lukanya lebih banyak daripada luka di kakiku. Aku tengok wajahnya, dia tetap tersenyum kepadaku padahal aku tahu bahwa ia tengah memendam luka yang sangat dalam. Sosok itu menjadi teman bicaraku di seanjang jalan hingga luka dikakiku tak lagi terasa. Saat itulah akau merasa menemukan apa yang aku cari dan aa yang aku tuju. Dan saat itu aku berfikir untuk mengakiri jalanku bersama dengannya.

Aku berhenti sejenak di sebuah persimpangan jalan. Aku melihat jalan dikiriku jelas mengarah pada sebuah kesenangan semu belaka. Dan jalan sebelah kananku adalah jalan yang dipenuhi oleh pohon-pohon hijau nan sejuk dipandang mata. Namun mataku tersilaukan oleh kesenangan sesaat. Aku melepaskan tangan seseorang yang selalu menemani jalanku. Padahal aku tahu bahwa tujuan kita adalah sama yanki melewati pohon rindang dengan udara yang menyejukkan hati. aku melihat sosok disampingku telah berjalan meninggalkanku, ku tatap wajahnya yang sudah tak tersenyum lagi. Dia dengan sisa-sisa kekuatannya berjalan ke kanan. Aku kembali berjalan sendiri dengan wajah yang bahagia karena memikirkan sebentar lagi aku akan dapat kesenangan.

Langkah kakiku ku percepat menuju arah kiri. Semangatku menggebu-gebu. Hingga aku tak sadar jalan yang aku lalui tak hanya penuh batu-batu yang dapat menggores kakiku tapi juga dipenuhi duri-duri tajam yang siap menusuk kakiku. Aku terus saja melintasi duri-duri itu, ketika aku sampai diujung jalan aku baru sadar. Keindahan yang aku lihat sebelumnya hanyalah fatamorgana saja. Aku tak mendapatkan kesenangan justru kakiku semakin penuh luka dan tak mampu berjalan lagi.

Yang tersisa kini hanyalah sesal belaka. Ku tinggalkan seseorang yang selalu mendapingiku, ku korbankan tubuhku, ku tak pernah berfikir panjang. Hanya mengejar kesenangan sesaat. Aku baru sadar bahwa seharusya aku tetap berjalan bersama seseorang itu. Sekarang aku harus menerima kenyataan bahwa seseorang itu telah menemukan teman baru dalam perjalanannya dan aku tak bisa memaksa dia untuk berjalan bersamaku. Bahkan aku terlalu hina untuk mengharapkan dia kembali bersamaku setelah aku meninggalkan dia begitu saja. Kenyataannya sekarang aku hanya bisa menangis di ujung jalan sendirian sambil menahan rasa sakit akibat banyaknya duri yang menancap dikakiku.

Aku tak tahu sekarang harus bagaimana. Aku kehilangan arah. Aku tak berani memanggilnya untuk kembali bersamaku. Aku kehilangan pegangan untuk berjalan. Aku bingung harus bagaimana. Aku tak bisa merubah kenyataan ini. Akulah yang telah menyakitinya dan aku lah yang tak bisa menjaga orang yang disiku dan aku tak memiliki hak sedikitpun untuk menariknya kembali berjalan bersamaku.
Mungkin ini akhir dari segalanya.


TAGS


-

Author

Follow Me