Sawah menelan mobil-mobilanku

21 Apr 2014

Dengan sengaja aku berjalan menyusuri pematang sawah yang menghijau ditumbuhi padi. Nampak beberapa ekor burung pipit sedang mencuri-curi menikmati padi yang masih hijau. Jalan kecil yang aku lalui di pinggir sungai nampaknya tak lagi sekokoh saat usiaku masih lima tahun. Nampak tanah pondasi jalan sudah mulai terkoyak oleh aliran sungai. Seolah-olah akan ikut terbawa air saat hujan deras melanda. Langkah kakiku terhenti ketika kulihat sepetak sawah milik bapakku.

A place to remember
Seketika itu aku seolah-olah kembali ke masa saat usiaku 5 tahun. Minggu selalu menjadi hari bertualangku berbalut lumpur sawah. Aku duduk dibawah pohon kapuk yang berbaris mengikuti garis aliran sungai besar. Karung putih bekas bungkus pupuk sebagai alas. Di depanku Nampak sebuah mobil-mobilan dari plastik, disampingnya beberapa makanan kecil lengkap dengan sebotol air minum. Dari tempat dudukku aku bisa melihat bapak dan ibu sedang mengolah sawah untuk ditanami padi. Air menggenangi seluruh permukaan sawah hingga membuat tanah menjadi lunak.
Setelah bosan memainkan mobil-mobilan, aku beranjak dari tempat dudukku. Mataku menyusuri daerah sekitar. Aku menemukan tanah liat di tepi sungai. Segera saja ku berlari seraya berjingkrak-jingkrak. Tak butuh waktu lama, segenggam tanah liat sudah berada ditangan. Aku kembali ke tempat rindang dibawah pohon kapuk. Segera saja tanganku mulai disibukkan membentuk tanah liat menjadi orang-orangan. Ku tempelkan beberapa orang-orangan dari tanah liat di atas mobil mainanku. Aku menirukan suara mobil sambil mendorong mobil-mobilanku kesana-kemari. Ku lihat ibuku menoleh kepadaku dari tengah sawah seraya tersenyum lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.
Dari jauh Nampak sosok yang aku kenal sedang menuju ke arahku. Ya. Nenek datang membantu orang tuaku dengan membawa saudara sepupu bersamanya. Langsung saja aku setengah berlari menyambut nenek. Aku yakin di antara barang di tas yang menggelayut di tangan nenek pasti terselip makanan kecil untukku.
Sepupuku memang sering ikut ke sawah saat libur sekolah sama denganku. Kami sering main bersama jika sawah yang kita tuju sama. sepupuku seorang laki-laki sama sepertiku otomatis kami menjadi teman bermain yang cocok ditambah lagi umur kita hanya beda satu tahun saja. Segera saja setelah kami bertemu langsung bermain bersama. Awalnya kami berdua hanya duduk-duduk sambil main mobil-mobilan dan tanah liat. Namun kami mulai melirik ke sawah yang digenangi banyak air. Aku dan sepupuku kemudian merengek-rengek agar dijinkan untuk ikut terjun kesawah. Tak lain tak bukan adalah untuk bermain air dan lumpur. Awalnya bapak, ibu dan nenek melarang namun karena mungkin tak tahan mendengar rengekan kami terus menerus akhirnya kami di ijinkan.
Langsung saja mobil-mobilanku ku bawa terjun ke sawah yang berlumpur. Aku dan sepupulu langsung saja kegirangan bermain air yang bercampur lumpur seraya mengelilingi sawah. Saling siram menyiram air dan melempar lumpur pun menjadi permainan andalan kita. Tak hanya badan saja yang belepotan lumpur, rambut kita pun penuh lumpur. Saking asyiknya aku lupa dimana meletakkan mobil-mobilanku. Aku melihat sekeliling ternyata mobil-mobilanku tak ada. Akhirnya kau mengadu kepada ibuku sambil sesegukan. Aku terus saja menyalahkan sepupuku karena dia yang mengajakku berkeliling sawah sampai lupa dengan mobil-mobilanku. Ibuku berusaha menenangkan dan menghentikan pekerjaannya sementara untuk membatu mencari. Namun setelah beberapa saat mencari akhirnya mobil-mobilan itu tak ketemu mungkin karena warnanya yang hitam dan ukurannya tak terlalu besar sehingga sulit ditemukan diantara hamparan lumpur. Aku pun menangis tak henti-hentinya dan terus saja meneriaki sepupuku dan menyalahkannya atas insiden hilangnya mobil itu.

7a97330c5e581c08060e15bf543832e8_img_20140303_145720

Saat aku mengingat peristiwa iu, aku terkadang senyum-senyum sendiri. Namanya anak kecil yang selalu mau menang dan benar sendiri, ada saja tingkah aneh yang dilakukan. Kecerobohanku sendiri malah menyalahkan orang lain. Namanya anak kecil, cepat marah dan juga cepat lupa. Walaupun kami sempat marahan, selang berapa lama pun kami sudah terlibat dengan canda tawa ketika kami mandi disungai kecil membersihkan lumpur disekujur tubuh.

Tulisan ini dikut sertakan dalam “A Place To Remember GiveAway”

a time to remember


TAGS A Place to Remember


-

Author

Follow Me