Politik bukan untuk memupuk kekayaan tapi untuk mengabdi kepada rakyat

4 Oct 2013

Weh… sungguh hebat banget atau keterlaluan, semakin banyak sekali para politikus yang terlibat dengan kasus korupsi. Tak hanya politikus saja, korupsi mulai masuk di sendi-sendi penegak hukum. Malam, 2 Oktober 2013 Ketua MK ditangkap oleh KPK atas keterlibatanya dalam Pilkada di Kalimantan Tengah.

Sungguh mencengangkan mendapati Mahkamah Konstitusi yang salah satu tugasnya adalah menyelesaikan masalah sengketa dalam pemilihan umum dapat disuap. Tak heran akan muncul banyak sekali kepala daerah yang kurang berkompeten dan hanya mengandalkan uangnya saja sedangkan kemampuannya meragukan. Lalu bagaimana nasib Indonesia kedepannya jika politik selalu saja disalahgunakan untuk memupuk kekayaan pribadi saja? Bahkan hukum yang harusnya membela pada kebenaran bisa dibeli dengan uang.

Entah apa maksud dari para politikus yang demen banget menyuap. Saya rasa mereka terjun kedunia politik hanya untuk mencari kekayaan. Berbeda halnya jika tujuan mereka satu-satunya adalah demi mengabdi kepada rakyat, tentunya mereka akan mengakui kekalahan dan mau menerimanya. Syukur-syukur mau menyerahkan rencana program-programnya kepada pemenang agar nantinya bisa diterapkan di dalam masyarakat kalau memang itu sangat baik dampaknya. Alangkah indahnya jika indonesia dipenuhi dengan para pemimpin yang saling bekerjasama, saling berbagi ilmu ataupun saling mendukung. Tentunya masyarakat akan sangat tentram.

Jika ditelaah lebih mendalam, orang-orang yang masuk ke dunia politik harus memiliki tekad sekuat baja hanya demi mengabdi ke masyarakat. Tak goyah akan uang yang hilir mudik di depannya. Memang sih dengar-dengar gaji politikus tersebut tak sebanding dengan biaya yang mereka keluarkan dalam kampanye. Saya rasa itu sudah menjadi resiko mereka sendiri, siap mengabdi berarti harus siap berkorban. Tak ada satu alasanpun yang mengharuskan memakan uang rakyat.

Lalu bagaimana hukum bagi koruptor? Banyak yang bilang hukum kita masih terlalu longgar. Berbeda dengan China, mereka bahkan sampai menghukum mati para pejabatnya yang terbukti terlibat dalam penggelapan uang. Di Indonesia sendiri hukuman mati bagi koruptor memuai banyak pro dan kontra. Diharapkan hukuman mati dapat membuat efek jera dan merupakan bentuk preventif korupsi, disisi lain banyak yang menilai bahwa hukuman mati kurang manusiawi. Lantas memakan uang yang seharusnya untuk kesejahteraan rakyat apakah manusiawi?

Sepertinya tak peduli hukuman semacam apapun itu, korupsi yang tetap ada. Inti dari semua masalah adalah pada keimanan seseorang masing-masing. Jika mereka kuat iman tentu saja akan sadar diri bahwa setiap tindakan dan perbuatan nantinya akan dipertanggung jawabkan. Sadar akan posisi masing-masing dan menempatkan sesuatu pada semestinya sangat diperlukan di dalam semua bentuk lapisan kehidupan manusia. Keserakahan akan menghancurkan manusia sendiri, rasa tidak akan pernah puas selalu menyelimuti kehidupan. Entah mau pilih jalan yang tenang dan damai atau memilih jalan yang penuh dengan tipu daya duniawi, yang jelas dampaknya akan dirasakan sendiri :D


TAGS korupsi


-

Author

Follow Me